RSS

Dinda – part 1

“Dinda, kamis besok kakak berangkat..” ujarnya pelan.

Aku hanya terdiam. Memalingkan wajahku keluar sana, berpura melihat segerombolan orang2 yang baru masuk restoran.
Aku yang tadinya bersemangat, jadi kehilangan selera makanku secepat kilat. Sejak sebulan lalu, aku memimpikan makan di restoran ini, bersamanya. Namun, baru kesampaian setelah sekian lama menuggu dan berharap. Ku kira mala mini akan menjadi malam yang ku nantikan, setelah kemarin baru saja berdebat panas dengan orang yang sedang bicara denganku saat ini.

“Ke mana?” tanyaku basa-basi, padahal aku sudah tahu ke mana dia akan pergi.

“Ke Malang terus lanjut ke Pare, kakak kan sekalian mau belajar bahasa Inggris di sana. Lupa ya?” senyumnya ringan.

Oh iya! Nanti gak usah pulang ke Bjm lagi ya?” sahutku sinis.

“Lho, kok gitu? Gak suka ya kakak pergi? Nanti kakak balik lagi kok ke Bjm, tenang aja, Dinda..”

Aku tak menghiraukan. Aku tak peduli.  Benarkah aku tak peduli??

Aku sedih. Aku takut. Dengan perginya ke Malang akan membuatnya kembali pada “gadis” itu. Dia kuliah di Malang. Ah sudahlah..

Berhubungan dengan lelaki ini membuatku berpikir dan mengulang kembali kenangan yang telah aku lalui bersamanya. Aku bahkan sering menyesali kenapa aku mengenalnya dan aku “menyepakati” caranya berpacaran. Ah bukan, berhubungan denganku.

……………………………………………………………………

2 tahun yang lalu

Di tengah guyuran hujan, aku masih berdiri di depan ruang kelas bahasa Arab. Demi kecintaanku pada hujan, aku selalu datang ke sini setiap berakhirnya kelas, dan jika hujan datang, seperti saat ini. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hingga menjelang maghrib, sampai2 kakak musyrifah di asramaku kesal melihat ulahku yang selalu datang telat kalo hujan datang. Padahal hujannya sudah berhenti semenjak setengah jam yang lalu.

“Mengantar hujannya dulu sampai ke rumahnya ka!” sahutku ngeyel.

“Emangnya hujan punya rumah, gitu?” balas Ka Lia, kakak musyrifah kesayanganku.

“Iya, tadi kami habis jalan2 dulu..” lanjutku sembari mencuci kakiku yang penuh dengan pasir akibat melepas sepatuku sewaktu pulang tadi. Aku malas membersihakn sepatu yang baru aku beli, apalagi di depan asrama jalannya masih becek terkena guyuran hujan, jadilah kakiku kena imbasnya.

“Yaa sudah, cepat mandi, terus pimpin sholat yaaa??”

“Lho, giliran Dinda kan jum’at besok, hari ini masih Rabu Kaaa?” tanyaku heran.

“Ini sebagai hukuman kamu pacaran terus tadi!”
“Ah, pacarannya kan juga sama hujan ini, bukan sama ikhwan..” aku membela diri sambil cengengesan.

“Pkok ny kakak gak mau tau, cepetan gih, siap2 sana!” Ka Lya berlalu begitu saja dari hadapanku.
“Loh, loh, ga bisa dong kak. Ka Lya? Kak…??

Malam itu aktivitas ba’da maghrib di ma’had kesayanganku ini berlanjut seperti biasa. Setelah sholat, kami beramai2 membaca surah Yaasin, Al Waqi’ah, dan Al-Mulk yang akan dilanjutkan dengan bersama2 melafazkan asma’ul husna sambil bersenandung. Rencananya lepas isya nanti, kami mau latihan tarian rudat, bersama Ka Ega sebagai pembimbing. Ka Ega jago tarian daerah, makanya Murabbiyah menunjuk Ka Ega untuk menjadi koreografer sekaligus membimbing kami latihan. Ketua grup tarian ini adalah Aida, si Malaysia.

Memang minggu ini adalah minggu sibuk kami dalam mempersiapkan acara perpisahan asrama nanti. Hhhh… aku tak menyadarinya, atau aku terlalu menikmati suasana di sini hingga aku tak merasakn waktu dengan begitu cepatnya berlalu. Sebulan lagi kami akan keluar dari ma’had ini, ma’had tercintaku. Di mana aku jatuh cinta kepada hujan untuk pertama kalinya. Memandanginya jika aku merasa kesepian meski banyak teman2 ku di sini.

Namun, malam itu adalah malam special. Selesai shalat isya, teman2 yang tergabung dalam latihan tarian rudat banyak yang minta izin terlambat latihan karena ada yang kepengen makan dulu lah, ketemu sama ini lah, itu lah.. dan akhirnya di putuskan bahwa kami latihan jam 9 malam saja, di aula yang juga merangkap mushalla.

Aku langsung ke atas, menuju kamarku di lantai 2. Secepat kilat ku sambar handphone ku yang tergeletak di atas kasur, begitu ku dengar ada ringtone yang berbunyi yang nada nya tidak asing lagi bagiku. Ada telepon. Aku agak kaget sekaligus senang begitu melihat nama pemanggil di layar. Ka Panda. Secepat tarikan nafas, secepat itu pulalah aku menekan tombol OK untuk menerima panggilan yang tidak biasa itu.

“Halo, assalaamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsayaaang..” suara itu tertawa.

“Ih kakak ini gimana sih, masa jawab salamnya kayak gitu?” sahutku sebal.

“Hehe, iya, wa’alaikumsalaam. Lagi di mana nih Dinda?” Tanya Ka Panda.

“Di asrama Kak, biasa habis sholat jamaahan tadi. Ada apa Kak?”

“Hmm ga ada apa2. Sudah makan de?”

“Belum Kak, kecuali kakak mau traktir Dinda makan, boleh deh, dengan senang hati.” Bercandaku riang.

“Oh gitu yaaa.. Kebetulan nih, sebenarnya kakak juga emang beneran mau traktir Dinda makan bakso kok di Gepeng Gatot. Tau gak? Pernah makan di sana? Enak banget loh, apalagi habis hujan2 gini..” cerocos Ka Panda panjang lebar.

“Haaa?? Beneran nih Kaaa?? Hayuk, mau deh Dinda mau banget.. Eh tapi beneran inih? Gak nipu kaaaaann? Soalnya kakak sering gitu sih…”

“Hahaha, mana ada coba kakak nipu kamu, Dindanya aja yang emang rada sensitive sama kakak. Beneran inih kakak traktir kamu. Mau gak? Kalo mau, cepat2 siap2 sana, kakak tunggu nih…”

Aku kaget, banget. Aseli. Ih kapan2 yaaa Kak Panda baik gini, eh salah ding, kenapa yaa kak Panda mau traktir makan? Kan kita gak lama juga kenal nya. Baru aja kok. Ini pertama kalinya loh, diajak kakak tingkat cowok makan di luar. Huaaaahh, gak kebayang deh betapa senangnya aku waktu itu.

“Eh, kok malah diam? Dinda, kamu masih disitu kan Dek?? Halo??”

“Eh iya kak, masih idup ini Dinda nya, hehe. Iya kak, Dinda siap2 dulu yaaa?” sahutku cepat.

“Iyaaa, kakak tunggu yaa. Di depan masjid kampus.. Assalaamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalaam..”

……………………………………………………………….

(to be continued)

 
Leave a comment

Posted by on December 23, 2012 in Free Writing

 

Honey Tears

Menangislah sayang..

 

Ketika dunia yang kejam ini menyakiti mu, ketika dunia yang fana ini mengoyak hatimu, maka menangislah jika itu bisa mengurangi sakitmu, lukamu..

Menangislah ketika tidak ada yang memberikan bahunya untuk mu bersandar.

 

Menangislah ketika mereka hanya berdiam diri, dan tak mampu menghibur.

Menangislah ketika kau sudah kehilangan kata2 untuk membeberkan deritamu.

Menagislah ketika mereka tak mendengar isakmu.

Menangislah, tidak ada yang peduli dengan tangismu, sayangku..

 

Menangislah, jika itu bisa menguatkanmu nanti..

Menangislah sepuasmu, sesuka hatimu..

 

Menangislah jika nyanyian perihmu tak sanggup lagi bertahan.

Menangislah ketika Rabb mu tak merangkul mu.

Menangislah, demi mereka yang telah menangis karnamu.

Menangislah, jika dengan deraian air mata itu bisa membuatku tersadar..

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2012 in Free Writing, Unheard Sound

 

IDC, Dec 30th 2009

Dan ketika itu kau telah terbaring lemah

Satu per satu dedaunan pun mulai layu menyambutmu

Seketika cahaya bumi mulai memudar dan air-air mulai mengering

Meskipun masih kudengar riak mereka

Tak ada rasa bagiku

Kau telah hilang dariku

Kemanapun, dimanapun, dan siapapun yang akan bertanya

Tak ada satu jawaban pun yang akan ku pertahankan

Ceritaku berakhir saat jemari ini tak bisa lagi menyentuhmu

Dan sekarang harus ku bungkamkan nafsuku untuk memilikimu

Yang Pengasih, Yang Tau, Yang Bijak, Yang Suci..

Lebih menginginkan mu daripada aku

Damaiku untuk mu disana Sayang …

 

 

 

 

Re_write

IDC, Dec 30th 2009

 
1 Comment

Posted by on September 5, 2012 in Unheard Sound

 

Go to LO to the VE.. L-O-V-E ..

Love isnt having 500 pictures of him on your phone.
Love isnt when you text him day and night.
Love isnt when he buys you expensive gifts.
Love isnt when you talk with him 24/7
Love isnt when you ditch your friends for him.

Love isnt when you go for the cutest or hottest guy you know for only that reason!
Love ♥ is when you do anything to be with him even for a short while.
Love ♥ is when you just want him to be happy.
Love ♥ is when you think about him 24/7.
Love ♥ is when you cant help feeling jus alittle bit jeaslous when hes talking to other girls and not you.
Love ♥ is when you remember the songs you and him danced too.
Love ♥ is when you can go to him at your worst.
Love ♥ is when everything reminds you of him.
Love ♥ is when you get butterflies just hearing his name.
Love ♥ is when he breaks ur heart and you still love him with all the little pieces.
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2012 in Unheard Sound

 

Tetesan air itu…


Aku ingin hujan kembali datang,
agar aku bisa menangis sejadi-jadinya,
sehingga tidak ada yang bisa mendengarku
jika hujan bergemuruh dengan derasnya..

………………………………


aku ingin hujan di sini,
agar bisa mendiamkan isakku,
mendinginkan hatiku,
membuai mataku hingga lelah dan terpejam,
hingga aku tak lagi ingat
apa yang dicerna logika dan perasaanku..

…………………………………..

 
1 Comment

Posted by on August 2, 2012 in Unheard Sound

 

I can’t stand it anymore..

Ah aku muak sekali dengan semua ini. Benar2 muak. Tapi yah apa mau dikata, aku tetap harus bertahan berada disini selama liburan ini. Seringkali aku berfikir untuk kembali saja ke rumah kecilku di sana, tapi akan sangat tidak etis kupikir, mengingat apa yang terjadi selama tahunan terakhir.

Aku benci, aku muak, dan aku tidak sanggup lagi bertahan di sini, jika tidak karena “boneka kecil” itu. Namun, “boneka kecil” itupun sudah rusak bagiku, sehingga tidak ada alasan lagi aku berthan lebih lama di sini. Nanti, selepas liburan, aku akan menenggelamkan diriku dalam “pekerjaannku”. Aku bisa dengan mudah mengajak teman2 ku untuk jalan2 sebentar. Mereka kan suka jalan2. Aku tidak akan mengharapkan “orang itu”. Dia tidak aka nada di sini lagi, dia pindah ke luar kota, melanjutkan studinya. Aku pun tidak perduli lagi. Terserahnya sajalah sekarang mau bagaimana, aku tidak peduli. Mau dia pacaran di sana kek, mau dia kembali dengan “gadis itu” lagi juga terserah dia saja. Aku akan menyiapkan “tameng” terkuat untuk melindungi hatiku dari terpaan “polusi” yang nantinya mungkin akan melanda hatiku.

Hhhh, berhubungan dengannya saja kau sudah capek, capek sekali. Bayangkan saja, aku harus selalu sembunyi2 jika hendak menemuinya atau di antar pulang atau jalan-jalan dengannya. Benar-benar memuakkan. Aku bahkan tidak boleh mempublikasikan “hubungan” ini ke teman-teman ku atau orang lain. Jadilah aku hanya bisa seperti “backstreet”. Halah, aku sangat marah ketika itu. Apa aku bilang? Ketika itu?
Ya, ketika itu, hingga sampai saat inipun aku masih tetap marah, namun aku biarkan saja.
ketika itu aku masih tidak bisa menerimanya. Pada awalnya aku mengerti dan menyetujui saja apa maunya itu. Namun, lama kelamaan aku akhirnya tak terima juga. Aku beranggapan kalau dia memand tidak mau diketahui oleh orang banyak tentang hubungannya denganku. Kenapa memangnya?

Katanya dia tidak mau “hubungan” ini diketahui teman-temannya atau orang lain karena mereka tidak ingin “heboh”, yah tau sendiri lah, budaya yang jika melihat ada pasangan baru, entah mereka hanya berteman atau memang pacaran, jika berjalan berduaan langsung saja dicap sebagai orang yang berpacaran. Aku benci sekali itu.

Aku tahu, aku mengerti. Aku mencoba menerima kenyataan itu dan mencoba memahaminya. Namun, hingga detik ini aku masih saja sakit hati atas perlakuannya itu. Cukuplah sudah atas apa yang menimpaku, jangan lagi dia menambahkannya lagi dengan ini. Aku sudak cukup lama bertahan dengan keadaan “pacaran” yang seperti ini. Tapi, pada akkkhirnya aku tak sanggup juga. Aku bukanlah malaikat, aku hanyalah seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Meskipun diluar aku terlihat mencoba tegar, tapi didalamnya aku sangat rapuh. Aku gampang sekali menangis. Bahkan menangisi hal-hal yang sangat kecil sekalipun, yang bisa mengirimkan respon dari hatiku ke otak.

Selama dua tahun, aku mencoba belajar memahaminya. Belajar bagaimana caranya “mencintaiku” yang aku sendiri sangat kesulitan memahaminya. Aku bingung sekali. Bagaimana sih caranya itu, jalan ikirannya itu. Aku muak. Sangat muak dengan semua ini. Oh Tuhan, apakah ini hukuman bagiku karena telah “mendapatkannya” dengan cara seperti itu?

 

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2012 in Unheard Sound

 

I’m still available :)

Bjm, April 30 2012

At Kamar kostku

 

Ah hari ini sedang bad mood. Bukan entah kenapa.
Karena jawabannya ada di depan mataku.
Aku ingin seperti teman2ku, yang punya pasangan dan di perhatikan dengan “baik”.
Apakah aku mengatakn aku jomblo?? Tidak!
Aku bukan seorang yang high quality jomblo.
Tapi aku adalah seorang yang mempunyai seseorang yang memujaku dengan begitu indahnya, namun hanya dalam himpunan terbatas.

Himpunan terbatas??
Semacam istilah Matematika kah itu?
Tepat sekali!!

Artinya hubunganku ini tertutup. Sangat rahasia.
Kenapa? Terlarangkah??
Oh iya, tentu saja! Karna kami belum halal.

Garisbawahi kata2 ini. Belum halal.
Iya, yah..bisa dibilang masih penjajakan seperti itulah.

Dan, yang paling menyiksa adalah ketika teman2 ku asik membicarakan tentang pasangan2 mereka, hanya aku yang terbengang bengong mendengarkan kisah mereka tanpa berkata apa2.
Hanya sekedar ikutan nimbrung dan berceloteh tentang bagaimana mereka dan pasangannya.

Beberapa dari temanku ada yang sudah berkeluarga. (Hmmm bikin iri sahaja! 😦 )
Sehingga dengan ringan dan santainya aku akan ikut dalam “komunitas jomblo” di kelas.
Membahas masalah2 kuliah atau tugas2 yang makin hari makin numpuk dan berat saja.

Aku akan selalu menghindari pertanyaan2 seperti ini..

“Hmmmm.. malam minggu jalan ke mana?”
“Pacar mana nih? Pina ranai..”
“Bisi pacar kada kam tuuh?”

Dengan santai aku akan pergi meninggalkan mereka dengan menyunggingkan senyum termanisku untuk mereka sebagai sebuah jawaban. Dan mereka akan menyorakiku karna tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Atau aku hanya akan menjawab bahwa aku sedang galau sehingga tidak ada yang namanya pacar.. kasihan sekali .. 😀

 
2 Comments

Posted by on July 8, 2012 in Free Writing